Aku hanya ingin di dengar, Ayah ……
Sejak perceraian kedua orang tua ku berberapa tahun lalu, aku sangat kangen dengan ayah karna sekarang aku tinggal berpisah dengan ayah. Pertengkaran gara-gara soal ekonomi membuat keluarga kecil ku hancur. Seandainya saja waktu itu aku sudah tahu arti sebuah perceraian mungkin perceraian ini tidak akan terjadi karna aku bisa mengancam mereka dengan apapun yang bisa aku lakukan tapi sayang umur ku masih 10 tahun tidak tahu apa-apa sama yang namanya perceraian.
Saat itu rezeki ayah ku tidak mencukupi kebutahan sehari-hari, warung dan toko jam tangan ayah memang lagi sepi. Kasihan ayah selalu di marahi ibu karna tidak cukup memberi uang belanja. Pertengkar itu datang silih berganti tidak tahu waktu dan tanggal, pertengkar itu membuat semua kasih sayang yang dulu aku miliki hilang. Seorang anak perempuan berusia 10 tahun harus di hadapkan dengan masalah kedua orang tuanya yang akan bercerai.
Akhirnya perceraian itu benar-benar terjadi, aku masih kecil dan aku tidak mengerti apa-apa. Setelah menduduki bangku kelas 6 SD, aku baru sadar kalau orang tua ku sudah bercerai. Banyak pertanyaan yang ada di pikiran ku saat itu, pertanyaan yang tidak aku katakan kepada ayah karna aku takut. Walaupun masih kelas 6 SD aku juga sudah mulai mengerti sedikit demi sedikit artinya perceraian. Meski pun mereka sudah bercerai tetapi mereka masih sempat untuk bertengkar. Hari itu ayah datang ke rumah orang tua ibu dengan muka marah, saat itu aku melihat kalau itu bukan sosok ayah ku. Dulu sosok ayah di mataku, dia memliki hati yang lembut dan kalau ibu marah sama ku, ayah selalu datang membela ku. Tetapi perasaan yang kurasakan sekarang hanya perasaan takut.
“Buka pintunya”teriak ayah dari halaman luar, dengan segera nenek ku membukakan pintu
“ Ada apa?”Tanya nenek
“Saya mau mengajak Rizna ikut sama saya”ucap ayah dengan teriakkan yang membuat ibu yang ikit-ikutan marah-marah sama ayah
“Enggak. Rizna akan terus ikut sama saya”bentak ibu, dengan muka emosi ibu melawan ucapan ayah
Dengan cepat ayah menarik tangan ku dan dengan cepat juga ibu mempertahankan ku. Mereka menarik-narik kedua tangan ku.
“Sudah cukup, dan kamu tidak berhak untuk mengajak Rizna ikut sama kamu, ingat ya rizal dari dulu apa pernah kedua orang tua kamu memberi sesuatu buat Rizna. Satu biji nasi pun orang tua kamu tidak pernah”ucapan nenek benar-benar membuat ayah shock dan terdiam dengan muka yang penuh dendam ayah meninggalkan rumah nenek.
Posisi yang dulu pernah aku rasakan sangatlah sulit harus memilih kedua orang yang sangat aku sayangi dan berbeda tempat tinggal. Memiliki kedua orang yang di sayangi dan mereka saling beda pendapat memang sangat berat. Aku mencintai ibu ku dan aku juga mencintai ayah ku. Seorang anak yang berusia 10 tahun harus menghadapi posisi yang seperti ini, di rebutkan oleh kedua orang tuanya sendiri. Ingatan ku masih jelas, aku ingat saat-saat aku dan ayah selalu bersama, saat ayah ngolesih obat anti nyamuk di seluruh badan ku, ingat saat waktu kami bertiga tidur depet-depetan karna kami hanya tinggal di warung yang cukup kecil, aku juga ingat saat ayah dan ibu masih bisa bercanda, aku juga masih ingin saat mereka masih memiliki cinta satu sama lain.
Dua tahun perceraian kedua orang tua ku. Ibu memilih untuk menikah lagi, sedangkan laki-laki yang ingin menikahi ibu adalah teman ayah ku sendiri. Sekarang aku mengerti istilah tentang teman makan teman. Mungkin perasaan itu yang di rasakan ayah sekarang, hal yang tidak pernah di inginkan oleh setiap orang terjadi kepada ayah ku. Ibu sekarang sudah membagi hatinya kepada orang lain dan sekarang harapan ku hanya ayah. Aku harap ayah tidak menikah lagi. aku bersyukur masih adalah satu orang yang sayang pada ku dan memperhatikan aku dengan setulus hatinya. Ayah jangan tinggalkan aku saat ibu sudah membagi kasih sayangnya kepada orang lain. Orang yang tidak aku inginkan kehadirannya di keluarga kita.
Tetapi harapan ku waktu itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Tidak lama ibu menikah lagi, ayah juga ikut-ikutan menikah lagi. dua orang yang tidak aku harapkan masuk kedalam keluarga ku. Aku merasa mereka berdua telah menghancurkan keluarga ku, waktu ibu menikah aku sama sekali tidak bahagia dan waktu ayah menikah lagi aku juga tidak merasa bahagia karna bagi ku pernikahan mereka membuat batin dan mental ku terluka. Ayah tidak tau perasaan apa yang kurasakan saat ayah menikah lagi? ibu juga tidak tau perasaan apa yang aku rasakan saat menyaksikan pernikah ibu untuk yang kedua kalinya?
Waktu semakin lama berputar. Ayah sekarang memiliki kehidupan dan rumah tangga sendiri. Ayah memang sosok yang selama ini aku banggakan, walaupun kami hanya keluarga kecil dan tinggal di dalam sebuah warung sederhana bagi ku itu adalah kebahagian yang pernah aku rasakan. Ia adalah ayah yang selalu bisa membuat ku tersenyum dengan canda-candaan kecilnya di sepanjang malam. Kami memang keluarga kecil tapi kami memiliki satu kebahagian yang tidak akan pernah orang lain rasakan. Kebahagian dimana aku masih bisa merasakan memiliki keluarga yang lengkap, kebahagian dimana aku masih bisa merasakan memiliki sosok seoarang ayah, kebahagian dimana aku masih bisa merasakan pelukaan ayah.
Sekarang usia ku sudah 18 tahun, kenangan manis saat keluarga kecil ku masih bisa merasakan senyum dan kenangan pahit dimana aku harus direbutkan dengan kedua orang tua ku sendiri bahkan kenangan pahit itu saat melihat orang yang satu-satunya yang ku harapkan bisa menggantikan kasih sayang ibu tapi ia menikah lagi, itu dirimu ayah.
Aku sangat masih ingat dulu aku direbutkan oleh kedua orang tua ku. Sekarang aku mulai merasa kasih sayang ibu berkurang karna ibu sudah melahirkan bayi laki-laki yaitu adik tiri ku, mungkin kalau sekarang aku ikut bersama ayah dan meninggalka ibu, pasti ibu tidak keberatan. Tatapi sekarang ayah juga sudah memiliki anak lagi seorangan bayi laki-laki juga sama seperti ibu dan sekarang ayah juga tidak menginginkan aku lagi karna ia sudah mempunyai anak dari istiri barunya. Mungkin aku bukan satu hal yang penting lagi buat ayah, bahkan ibu. Sekarang aku merasa aku tidak memiliki siapapun. Keinginan ku saat ini aku hanya ingin didengar oleh ayah karna ibu sudah tidak bisa mendengarkan apa isi hatiku tetapi sekarang ayah sama seperti ibu, tidak bisa mendengarkan apa yang aku inginkan. Aku merasa menjadi hal yang tidak penting lagi buat mereka.
Ya, aku memang sempat iri dengan adik tiri ku meski itu dari ayah ataupun dari ibu.
“Ayah, aku pengen ketemu sama ayah?”ucap ku dengan lembut
“Bisa tapi untuk hari ini ayah mau keluar soalnya ayah mau ngajak adik kamu jalan-jalan keluar”sahut ayah. Ayah seperti tidak memperdulikan lagi perasaan ku sekarang
“Jadi kapan aku bisa bertemu dengan ayah?”Tanya ku dengan menaha rasa sesak yang ada di dada ku
“Mungkin 3 hari lagi, kalau kita janjian kaya gini kan ayah tahu kapan ayah akan bertemu dengan mu”jelas ayah tanpa merasa salah sedikit pun
“Iya ayah, ayah benar. Ini salah ku, kenapa aku tidak bikin janji dulu sama ayah kalau aku ingin bertemu”dada ini rasanya semakin sesak, sampai aku menutup telepon pun rasa sesak didada ini juga tidak hilang
Aku iri sama anak ayah sekarang, yang selalu mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari ayah. Sedangkan aku, aku harus telepon ayah dulu bahkan aku harus janjian sama ayah 3 hari sebelum kita bertemu. Aku merasa aku bukan anak ayah lagi, aku merasa aku adalah orang lain bagi ayah. Ayah yang dulu aku kenal buka ayah yang sekarang. Ayah berubah.
Pada saatnya aku mulai berontak, aku tidak kuat harus menahan rasa yang selama ini harus aku simpan sendiri. Rasa dimana hancurnya saat aku sudah tidak didengar lagi. aku sudah bosan dengan kata-kata nenek ku yang setiap hari marah-marah kepada ku karna ayah tidak membiayai aku lagi semenjak ia menikah.
“Rizna, sebaiknya kamu bilang sama ayah kamu kalau dia harus membiayai kamu setiap bulan”ucap nenek yang selalu marah kepada ku karna akibat ayah tidak memberi aku uang saku lagi
“Ibu juga tidak bisa membiayai sekolah kamu sendirian, Rizna”sambung ibu
“Enak saja dia tidak tahu apa-apa lagi. Mentang-mentang dia tidak mengurus kamu dan tinggal rumah terpisah denganya. Apa dia tidak bisa membiayai kamu lagi”
Aku sudah muak dengan semuanya. Muak dengan omelan ibu yang selalu marah-marah, muak dengan perkataan nenek yang selalu berbicara kasar. Aku muak harus mendengar itu setiap hari dan aku muak harus mendengar pertanyaan orang-orang tentang ayah. Aku juga tahu kalau ayah memang salah. Salahnya ayah karna ia tidak membiayai aku lagi.
“APAKAH AYAH MU MASIH MEMBIAYAI MU, RIZNA?”
Itu adalah pertanyaan yang aku tidak tahu harus menjawab apa. Disini lain ayah memanag tidak membiayai aku sampai SMP dan disisi lain aku juga tidak mau orang-orang menilai ayah dengan pandangan negatif. Aku sangat sayang sama ayah tapi ayah yang sekarang bukan ayah yang dulu aku kenal.
Aku seperti berdiri di halaman yang luas dan disisi sebalah kiri dan kanan ku terlihat sosok ayah dan ibu yang sangat berbahagia dengan keluarga baru mereka masing-masing. Aku merasa sepi, aku merasa sendiri. Aku tidak tau harus kemana dan ikut siapa, aku ingin merasakan kemesraan keluarga ku seperti dulu. tapi ego kedua orang tua ku telah mampu menghancurkan cinta mereka yang sudah lama bertahun-tahun.
Tapi bagi ku ayah tetapi menjadi sosok laki-laki yang tegar dan kuat. Aku sangat merindukan mu ayah, aku sangat menyayangimu ayah, aku juga sangat mencintaimu ayah. Di mataku kalau tetapi selalu aku banggakan. Aku tetapi ingin ayah lah yang akan menikahkan aku nanti. Dan aku selalu berdoa kepada tuhan agar ayah selalu tetap sayang dan mencintai ku dengan tulus.
Ayah, aku hanya ingin dengar ………
Ayah aku hanya ingin mengatakan sesuatu
Ayah aku hanya ingin membuat perasaan ku tenang
Ayah aku hanya ingin semuanya jelas
Ayah aku mencintai mu
Ayah aku merindukan mu
Kau akan selalu menjadi sosok yang aku rindukan ……….
Walaupun selama ini sosok ayah mulai memudar untuk memberikan aku kasih sayang dan pelukkan setiap malam tetapi aku yakin dilubuk hati ayah yang paling dalam ayah akan terus menyayangiku selamanya. Karna ayah adalah ayah ku satu-satunya.
Ayah, sudah lama pertanyaan ini aku simpan sendiri dalam pikiran ku dan sudah aku menyimpan rasa sakit batin dan mental ini semanjak perceraian itu terjadi. Perceraian yang merusak keluarga kecil kita.
Sekali lagi, ayah aku hanya ingin di dengar……
1. Ayah aku tidak ingin ayah bercerai dengan ibu !!!!
2. Ayah, tolong selamatkan masa kecil ku !!!!! dari kata perceraian
3. Ayah, kenapa ego ayah mengalahkan rasa cinta ayah kepada ibu????
4. Ayah, aku ingin kebahagian keluarga kita terulang kembali !!!!
5. Ayah, kenapa kau tidak memikirkan perasaan ku !!!!
6. Ayah, aku ingin memiliki lagi sebuah keluarga yang lengkap !!!
Perceraian bukan meperselamatkan masa kecil ku, ayah
keren dut, berkaca kaca aku baca nya :D
BalasHapusthanks dya sudah baca blog ku
BalasHapus